Yang Mati Tak Akan Pernah Kembali

Daniel (bukan nama sebenarnya) adalah  mantan pecandu narkoba. Kini ia menjadi tenaga relawan yang mendampingi para pecandu narkoba, bahkan ada beberapa pecandu yang sudah akut misalnya yang sudah terinveksi HIV/AIDS. Sepanjang harinya Daniel harus mendampingi pecandu yang sedang sakaratul maut. Lelaki kelahiran 1975 ini mulai mengenal narkoba sejak 1994 atau sejak ia berusia 18 tahun, ketika masih menjadi siswa sebuah SMU  di Jakarta. Kali pertama ia mencoba minuman, kemudian mengenal cimeng (ganja), selanjutnya mengenal inex (ecstasy), shabu dan puncaknya adalah putaw.

Karena kenikmatan putaw itulah, Daniel pernah menjadi junkie dalam arti sesungguhnya. “karier” puncaknya, ia pernah menjadi second-line bandar putaw dengan wilayah peredaran tak jauh dari rumahnya.  Peristiwa lainnya, ia pernah di penjara, pernah ditangkap di Bekasi ketika lagi nyuntik putaw, sementara jarumnya masih nancep di lengan. Kemudian jadi gembel di Pasar Tanah Abang  Jakarta Pusat, tidur di terminal untuk menunggu Bandar putaw buka di daerah Jakarta pusat tersebut. Pendek kata, perbuatan yang mengerikan untuk ukuran orang waras pernah ia lakukan.

Berbagai peristiwa yang menjadi derita dalam perjalanan hidupnya pun kerap ia terima semisal dari keluarga, berupa siksaan sejak kecil dan diperlakukan tak adil dari kedua orang tuanya. Hal dasar itulah yang menjadi alasan kuat bagi Daniel untuk mencari jalan keluar bagi kebuntuan hidupnya di rumah. Terucap dari mulutnya, sebetulnya ia tak memiliki kecenderungan menjadi pecandu. Kalau akhirnya memilih jadi pecandu, ia justru merasa at home di tengah-tengah komuintas para junkie. Seiring berjalannya waktu menjadi seorang pecandu, kehidupan Daniel nyaris pecah berkeping-keping dan berada diujung kehancuran. Beruntung tangan Tuhan masih mau menjamahnya dan mengangkatnya dengan peristiwa meninggalnya pacar tercinta yang juga pecandu karena overdosis.

Padahal, menurut pengakuan Daniel, mereka sama-sama sudah bosan hidup begini-begini melulu, dan  sepasang kekasih itu berkeinginan hidup normal dan sehat. Setelah dihajar duka karena kepergian sang kekasih, muncul duka yang lain dimana orangtuanya pun mengusir Daniel dari rumah.  Hal itu terjadi lantaran mereka sudah tak sanggup lagi mengurusi kebiasaan Daniel yang selalu memakai narkoba. ketika terusir dari rumah, ia pun pergi ke sebuah gereja di daerah Depok. Hal itu dilakoninya, karena ia merasa sudah tidak ada tempat lagi buatnya untuk berkeluh kesah. Dalam doanya kepada Tuhan, ia berkata “Tuhan gue sudah bosen hidup begini terus dan kepengen sembuh, terserah gimana caranya. Bantulah aku Tuhan”. Di gereja tersebut, ia bertemu seorang pendeta yang sekaligus membantunya dan dibawa ke klinik yang ada di gereja untuk diobati akibat kecanduan zat adiktif tersebut.

Sudah lima tahun Daniel dinyatakan bersih dari narkoba. Kini, ia malah menjadi relawan dan menolong para junkie agar hidup lebih sehat untuk meninggalkan narkoba. Tak Cuma itu, lelaki yang mengaku tak bisa pindah ke lain hati pada wanita lain ini pun dengan setia mendampingi mereka yang terjerumus narkoba dan terkena virus HIV/AIDS dengan penuh kasih sayang. Sepeninggal kekasihnya yang pergi menghadap Tuhan, Daniel lebih banyak menghabiskan waktunya bersama-sama pecandu dan komunitas gereja. Rencana untuk mendirikan sebuah workshop kerajinan tangan untuk menopang kehidupan mereka kelak secara ekonomi, kini teronggok di sudut gudang rumah kekasihnya bersama sisa keranjang pembungkus yang pernah ia bikin bersama sang kekasih untuk dijual kepada para kenalannya tempo dulu.

Meski kini kehidupannya telah berubah 180 derajat, dan awan kedukaan karena ditinggal kekasih hatinya terus menyelimuti dirinya. Namun ia akan bertahan sekuatnya untuk tak balik ke jalan yang gelap yang pernah ia lewati kendati kesedihan kadang-kadang menderanya. Apalagi ujian berat untuk keluar dari jerat narkoba telah ia lalui dengan gemilang. Bukankah kemudian ia juga merasakan betapa bermanfaat hidupnya sekarang ini untuk para pecandu dan penderita HIV/AIDS yang membutuhkan kasih sayangnya. Dibalik itu semua, ada satu kalimat “pamungkas” yang ia ucapkan, kenapa sampai detik ini dia mampu mengusir segala kesedihan dari hatinya, ternyata ia menyadari kalau yang mati itu tak pernah akan kembali.

logognb

Login Form






Forgot login?
Daftar Account? Register

Tanggal dan Waktu

Berita

TIGA LANGKAH MEMBANGUN REMAJA BEBAS NARKOBA

Membangun remaja yang bebas dari penyalahgunaan narkoba harus didasarkan pada pencermatan terhadap karakteristik pengguna narkoba sekaligus tindakan yang melatarbelakanginya. Menurut analisis Dr. Graham Blaine (psikiater), penyebab seseorang mengkonsumsi narkoba tidak hanya berasal dari keinginan individu itu sendiri akan tetapi juga berasal dari lingkungan sekitarnya.

Semuanya itu jelas akan memburamkan masa depan keluarga, masyarakat dan bangsa termasuk masa depan remaja itu sendiri. Logika yang dapat ditarik sangat sederhana. Remaja yang menyalahgunakan narkoba sudah menjadi generasi yang rusak dan sulit dibenahi. Tubuhnya tidak lagi fit dan fresh untuk belajar dan bekerja membantu orangtua, sementara mentalnya telah dikotori oleh niat buruk untuk mencari cara mendapatkan barang yang sudah membuatnya kecanduan.

Read more...

Ketua BNP Jabar

Ketuabnp
Ketua BNP Jawa Barat
Effendi M. Yusuf

Kalakhar

kalakhar
Ketua Pelaksana Harian
BNP Propinsi Jawa Barat
B.Kadafirman

SMS Gateway

smsgateway_1

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini12
mod_vvisit_counterKemarin202
mod_vvisit_counterMinggu ini2331
mod_vvisit_counterMinggu lalu3181
mod_vvisit_counterBulan ini3994
mod_vvisit_counterBulan lalu15046
mod_vvisit_counterSemua73595

Today: Sep 09, 2010

Komunikasi

Jejak Pendapat

Apakah perlu diadakan razia narkoba disekolah-sekolah atau Perguruan Tinggi

Bagaimana menurut anda mengenai artikel yang tampilan website BNP Jabar saat ini

Call Center

      

Pengunjung Online

We have 1 guest online