Edwin (bukan nama sebenarnya) usianya 25 tahun, sudah tiga tahun belakangan ini, ia menjalin hubungan dengan Ratna (bukan nama sebenarnya) yang usianya 27 tahun. Pada awalnya tidak ada yang mencurigakan dari sikap Ratna, tapi lama-kelamaan, Edwin, melihat tubuh Ratna makin lama semakin kurus. Wanita yang berprofesi sebagai dancer di sebuah klub malam ibu kota itu juga tampak loyo, tak Bersemangat. Edwin menaruh kecurigaan, kekasihnya itu memakai narkoba, terlebih belakangan ini Ratna kerap terlihat akrab dengan sahabatnya yang baru keluar dari panti rehabilitasi narkoba.
Menurut Edwin, setiap individu yang sedang dimabuk asmara berhak mengetahui kondisi kekasih apa-adanya. Hal itu sebagai langkah agar hubungan yang dijalin dua anak manusia itu bisa terus langgeng. Namun keraguan dan kecurigaan yang dialami Edwin sangat rentan menimbulkan perpecahan. Itu sebabnya daripada terus memvonis kekasihnya seorang pecandu, dan juga untuk membunuh rasa penasarannya kepada Ratna. “mau tidak mau, saya harus jujur juga dan terbuka mengungkapkan kerarguannya,” ujar Edwin.
|
Sebelum bertanya pada Ratna akan keraguan dan keresahan hatinya, ia pun harus membekali diri dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang cirri-ciri orang yang kecanduan narkoba. Hal ini untuk menjaga agar tidak ada yang tersinggung diantara mereka, sekaligus menggali kejujuran kekasihnya. Kemudian dari informasi kawannya, ia disarankan untuk menemui salah seorang dokter di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) di Cibubur, Jakarta Timur. Dari dokter itu, ia memperoleh banyak keterangan tentang tanda-tanda penyalahguna narkoba, tidak semata-mata kurus dan kehilangan gairah saja, tergantung zat yang dikonsumsi. Lebih jauh Edwin menjelaskan, sesuai dengan apa yang di dapat dari dokter di RSKO, model kurus dan kehilangan semangat biasanya model downers, yakni pengguna heroin atau putaw. Sedangkan model uppers, memiliki ciri energik, aktif dan tak bisa diam. Jenis narkoba yang digunakan adalah shabu atau ekstasi. Sedangkan model kurus tapi doyan makan dan suka melamun biasanya model halusinogen alias pengguna ganja atau hasish. Selain itu, tambah Edwin, ia disarankan agar menentukan sikap sendiri berapa lama akan memberinya kesempatan pada kekasihnya untuk berubah. Bila memang tidak ada perubahan, dan kekasihnya lebih suka berada dalam jeratan narkoba, berarti ia sudah sedemikian egoisnya, dan lebih memikirkan diri sendiri daripada hubungan ini dan masa depannya. Ketika semua informasi telah didapat, barulah Edwin memberanikan diri bertanya pada kekasihnya, apakah berat tubuhnya yang kian hari kian menyusut akibat narkoba atau bukan. Awalnya, secara mental Ratna belum siap untuk mengaku. Tapi setelah didesak akhirnya ia mengaku juga. Ketidaksiapannya tersebut lebih disebabkan dalam menghadapi beban-beban psikologi yang menjadi konsekuensi profesinya. Pertama, toleransi antar teman. Berdasarkan penuturannya, ia mengaku kalau dirinya mengkonsumsi barang haram itu lantaran bujukan teman. Karena bujukan teman, akhirnya ia justru terperangkap dalam fatamorgana. Kedua, untuk menggenjot kreativitas menjadi dancer demi mememenuhi permintaan pengunjung klub malam. Sebab menurut Ratna, ia menjadi sangat hebat luar biasa meliuk-liuk diatas panggung berkat narkoba. “Tapi sebenarnya, tanpa disadari Ratna, hidupnya sedikit demi seidkit dihancurkan oleh barang haram itu,” kata Edwin. Ketiga, kurang percaya diri menghadapi tuntutan pengunjung. “Kebayang nggak sih, menari didepan banyak orang dengan busana serba seksi dan mengelu-elukannya. Terkadang kita tiba-tiba menjadi sangat takut dan kecil. Namun ketika memakai narkoba, ia menjadi lebih santai dan nggak peduli dengan jumlah penonton yang datang. Penampilan dan aksi panggungnya menjadi lebih baik diatas panggung tapi sebetulnya hidupnya hancur,” ucap Edwin. Seakan tak percaya dengan apa yang terjadi pada kekasihnya, namun Edwin tetap memberi kesempatan dan dorongan agar Ratna mau mengikuti rehabilitasi. Bahkan bila perlu ia pun turut mendampingi kekasihnya selama menjalani terapi dan rehabilitasi. “Itulah sekelumit kisah kekasih saya yang terjerumus narkoba, yang memberi kesan, ternyata narkoba tidak hanya menjadi momok sekelompok masyarakat pemuja dunia gemerlap, keluarga broken home, remaja yang terjebak dengan pergaulan bebas, para penjaja seks. Tetapi juga menyentuh keluarga tradisional (lengkap orang tuanya) dan keluarga dengan status pendidikan yang cukup serta keluarga dengan religius yang tinggi,” imbuh Edwin menutup pembicaraannya. |
Badan Narkotika Provinsi Jawa Barat
Jl. Cilaki No.51 Bandung 40115
Telp. (022) 7231209 Fax (022) 7208036
Copyright © 2010 Badan Narkotika Provinsi Jawa Barat