Kisah Nyata

Pengaruh Ganja

Jauhi Narkoba, Pilihan Berat Tapi Sehat KAMAR kos mahasiswa di bilangan Desa Hegarmanah, Kec. Cikeruh, Kab. Sumedang itu begitu pengap. Kepulan asap memenuhi ruangan kamar mungil berukuran 4×6 meter persegi itu. Susah sekali mencari oksigen “murni” untuk bernapas. Kendati demikian, tiga pemuda tampak sama sekali tak merasa terganggu oleh keadaan tersebut. Terus saja mereka mengisap lintingan kertas di tangan dan kemudian menyedot asapnya dalam-dalam. Rijal (20), Fulan (20), dan Ghulam (21), sebut saja begitu nama-nama mahasiswa. Nikmat sekali tampaknya. Tak heran, seolah tak ada sedikit pun asap yang luput dari sedotan mereka.

Padahal, sebagian asap sudah melayang di udara, bahkan di antaranya sudah ada pula yang hampir berberai. Sekilas, apa yang mereka isap tak ubahnya seperti rokok. Hanya, perbedaan langsung terasa begitu mencium “aroma” asap yang keluar dari lintingan tersebut. “Aroma” itu sangat berbeda jika dibandingkan dengan rokok. Lebih “banget”, bau, menyesakkan, sekaligus memeningkan kepala. Ya, ketiga mahasiswa itu sedang mengisap…ganja! Ketiga mahasiswa itu mengaku belum lama menggunakan ganja. Baru beberapa bulan, kata Rijal, ketika beban studi semakin berat. Bukan itu saja, ganja juga dijadikan semacam pelarian dari masalah keluarga yang tengah dihadapinya. “Di saat beban studi saya semakin berat, muncul masalah keluarga. Tak hanya persoalan ekonomi keluarga, tetapi juga ada persoalan lain yang membuat saya pusing. Sejak itulah saya ‘berkenalan’ dengan ‘barang’ ini. Diajak temen sih, mulanya. Lama-lama, keenakan dan tak ingin meninggalkannya,” ungkap Rijal.

Meskipun begitu, Rijal enggan disebut pecandu. Alasannya, dirinya hanya sesekali mengisap. Itu pun dalam rentang waktu yang agak lama. “Ya, biasanya sih hanya 2-3 kali dalam sebulan saya mengisap ganja. Kalau saya benar-benar enggak kuat. Sejauh ini, tak ada pengaruh apa pun pada diri saya. Apalagi, ketergantungan. Enggak…enggak sama sekali,” tegasnya. Lain halnya dengan Ghulam. Ia mengaku, sudah lebih dari dua tahun “bergaul” dengan barang haram tersebut. Saat itu, ia masih tercatat sebagai salah satu SMU swasta di Kota Jakarta. “Sebagai anak muda, mulanya hanya pengen coba-coba. Akan tetapi, lama-kelamaan saya menjadi gandrung dan kemudian kecanduan.

Rasanya, ada saja yang kurang kalau dalam sehari tidak mengisap ganja,” ujar bungsu dari tiga bersaudara tersebut. Ketika pertama kali, tambah Fulan, ada perasaan bersalah pada dirinya. Apalagi, mengingat dirinya merupakan salah seorang lulusan sebuah ma’had (pondok pesantren) terkenal di bilangan Jakarta Selatan. “Kadang-kadang, ada keinginan untuk menghentikan semuanya. Akan tetapi, enggak tahu kenapa, rasanya berat sekali,” tutur Fulan. BEGITULAH, pengaruh narkoba begitu jahat sehingga nyawa manusia pun bisa hilang akibat penyalahgunaan zat terlarang tersebut. Efek yang ditimbulkan narkoba bisa dikategorikan dalam tiga golongan, yakni depresan (membuat perasaan tenang, euforia), stimulan (membuat bergairah, tidak heran, jadi pemicu seks bebas!), dan halusinogen (menimbulkan halusinasi).

Dengan kenikmatan semu yang ditawarkan narkoba, banyak orang yang terperangkap di dalamnya sehingga para penyalah guna narkoba sering tidak menyadari bahwa maut sedang menjemput mereka. Akibat buruknya pengaruh narkoba tersebut, tidak heran narkoba telah menjadi salah satu pokok permasalahan krusial di seluruh negara di planet ini. Terkait dengan penyalahgunaan narkoba atau lebih dikenal sebagai NAPZA (narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif), negara-negara di dunia pun sepakat berkolaborasi mengentaskan narkoba dari kehidupan manusia. Karena itu, peringatan “Hari Madat Sedunia” pun dirayakan di semua negara. Sekadar mengingatkan bahwa bahaya narkoba selalu mengintai kehidupan manusia. Dalam perayaan itu pula, dilakukan kegiatan “lights on” atau menyalakan lampu kendaraan mulai dari pukul 10.00-14.00 WIB. Kegiatan seremonial semacam ini merupakan dukungan terhadap gerakan antinarkoba. Tentu saja, peringatan seremonial demikian tidak akan ada artinya tanpa aksi nyata.

Dalam hal ini, salah satu persoalan mendasar dari gerakan antinarkoba di negara kita adalah masih lemahnya komitmen penegakan hukum. Contohnya, sampai detik ini, penerapan hukuman mati kepada terpidana mati narkoba belum dilaksanakan. Padahal, dengan hukuman semacam itu, diharapkan muncul efek jera kepada para pengedar narkoba. Selain itu, kita sebagai bagian dari masyarakat Indonesia juga bisa berkontribusi terhadap aksi nyata memberantas narkoba, yakni dengan memilih hidup sehat. Jauh dari narkoba, berarti kita sudah melakukan aksi nyata memberantas pengaruh buruk narkoba. Memang tidak dapat disangkal, pengaruh narkoba begitu jahat, mengubah seseorang yang awalnya berkarakter baik menjadi jahat, seseorang yang awalnya sehat menjadi sakit bahkan semaput. Gaya hidup materialistis dan hedonistis memicu banyak orang untuk menyelesaikan persoalan hidup dengan cara-cara instan. P

arahnya, penggunaan narkoba juga dijadikan sebagian orang sebagai cerminan gaya hidup kosmopolitan. Ini benar-benar salah kaprah. Hanya gara-gara banyak pengguna narkoba artis ternama atau atlet ternama, sejumlah anak muda yang mengidolakan mereka juga ikut-ikutan menggunakan zat terlarang tersebut. Sudah banyak kasus di dunia ini yang memperlihatkan kepada kita betapa jahatnya narkoba itu. Kematian sejumlah orang ternama seperi Elvis Presley, Marlyn Monroe, juga disebabkan oleh penyalahgunaan narkoba. Belum lagi, kelompok masyarakat lainnya yang tidak terdeteksi oleh media massa. Karena begitu kejamnya pengaruh narkoba terhadap kehidupan manusia, dunia pun sepakat narkoba harus diberantas. Dalam hal ini, United Nations Office for Drugs and Crimes (UNODC) atau Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk urusan Narkoba sepakat memperingati hari atimadat sedunia setiap tanggal 26 Juni. Melalui peringatan tersebut, setidaknya, setiap tahun pada tanggal tersebut, kita diingatkan bahwa narkoba adalah maut bagi kehidupan manusia. Narkoba harus dijauhkan dari kehidupan manusia.

Dalam hal ini, ungkapan “lebih baik mencegah daripada mengobati” adalah solusi jitu untuk mengeradikasi masalah narkoba dari kehidupan manusia. Dengan hidup jauh dari narkoba maka kita akan hidup sehat. Untuk itulah, tepat kiranya pada peringatan hari antimadat sedunia tahun ini, UNODC menetapkan tema universal yakni “Value Yourself…Make Healthy Choices.” Dengan tema ini, kita disadarkan bahwa jika kita memang sayang pada tubuh kita maka kita pun harus membuat pilihan-pilihan hidup yang sehat. Dengan mengatakan tidak pada narkoba, kita sudah melakukan pilihan hidup yang positif. Tubuh kita adalah karunia dari Tuhan. Karena itu, sudah seharusnya kita juga menghargai hasil ciptaan Tuhan dengan menjauhkan tubuh kita dari hal-hal yang dilarang oleh-Nya. Sayangilah tubuh kita. Misalnya, dengan tidak merokok, kita sudah menjauhkan narkoba dari tubuh kita. Pasalnya berdasarkan penelitian merokok adalah gerbang menuju seseorang menjadi pemadat. Lagi pula, rokok itu juga sudah terbukti merusak kesehatan. Pilihan yang sulit memang. Tetapi, jika kita berpikir rasional, sudah pasti kita akan meninggalkan rokok.

Bila Kekasih Pecandu Narkoba

Edwin (bukan nama sebenarnya) usianya 25 tahun, sudah tiga tahun belakangan ini, ia menjalin hubungan dengan Ratna (bukan nama sebenarnya) yang usianya 27 tahun. Pada awalnya tidak ada yang mencurigakan dari sikap Ratna, tapi lama-kelamaan, Edwin, melihat tubuh Ratna makin lama semakin kurus. Wanita yang berprofesi sebagai dancer di sebuah klub malam ibu kota itu juga tampak loyo, tak Bersemangat. Edwin menaruh kecurigaan, kekasihnya itu memakai narkoba, terlebih belakangan ini Ratna kerap terlihat akrab dengan sahabatnya yang  baru keluar dari panti rehabilitasi narkoba.

Menurut Edwin, setiap individu yang sedang dimabuk asmara berhak mengetahui kondisi kekasih apa-adanya. Hal itu sebagai langkah agar hubungan yang dijalin dua anak manusia itu bisa terus langgeng. Namun keraguan dan kecurigaan yang dialami Edwin sangat rentan menimbulkan perpecahan. Itu sebabnya daripada terus memvonis kekasihnya seorang pecandu, dan juga untuk membunuh rasa penasarannya kepada Ratna. “mau tidak mau, saya harus jujur juga dan terbuka mengungkapkan kerarguannya,” ujar Edwin.

Sebelum bertanya pada Ratna akan keraguan dan keresahan hatinya, ia pun harus membekali diri dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang cirri-ciri orang yang kecanduan narkoba. Hal ini untuk menjaga agar tidak ada yang tersinggung diantara mereka, sekaligus menggali kejujuran kekasihnya. Kemudian dari informasi kawannya, ia disarankan untuk menemui salah seorang dokter di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) di Cibubur, Jakarta Timur. Dari dokter itu, ia memperoleh banyak keterangan tentang tanda-tanda penyalahguna narkoba, tidak semata-mata kurus dan kehilangan gairah saja, tergantung zat yang dikonsumsi. Lebih jauh Edwin menjelaskan, sesuai dengan apa yang di dapat dari dokter di RSKO, model kurus dan kehilangan semangat biasanya model downers, yakni pengguna heroin atau putaw. Sedangkan model uppers, memiliki ciri energik, aktif dan tak bisa diam. Jenis narkoba yang digunakan adalah shabu atau ekstasi.

Sedangkan model kurus tapi doyan makan dan suka melamun biasanya model halusinogen alias pengguna ganja atau hasish. Selain itu, tambah Edwin, ia disarankan agar menentukan sikap sendiri berapa lama akan memberinya kesempatan pada kekasihnya untuk berubah. Bila memang tidak ada perubahan, dan kekasihnya lebih suka berada dalam jeratan narkoba, berarti ia sudah sedemikian egoisnya, dan lebih memikirkan diri sendiri daripada hubungan ini dan masa depannya. Ketika semua informasi telah didapat, barulah Edwin memberanikan diri bertanya pada kekasihnya, apakah berat tubuhnya yang kian hari kian menyusut akibat narkoba atau bukan. Awalnya, secara mental Ratna belum siap untuk mengaku. Tapi setelah didesak akhirnya ia mengaku juga. Ketidaksiapannya tersebut lebih disebabkan dalam menghadapi beban-beban psikologi yang menjadi konsekuensi profesinya.

Pertama, toleransi antar teman. Berdasarkan penuturannya, ia mengaku kalau dirinya mengkonsumsi barang haram itu lantaran bujukan teman. Karena bujukan teman, akhirnya ia justru terperangkap dalam fatamorgana. Kedua, untuk menggenjot kreativitas menjadi dancer demi mememenuhi permintaan pengunjung klub malam. Sebab menurut Ratna, ia menjadi sangat hebat luar biasa meliuk-liuk diatas panggung berkat narkoba. “Tapi sebenarnya, tanpa disadari Ratna, hidupnya sedikit demi seidkit dihancurkan oleh barang haram itu,” kata Edwin. Ketiga, kurang percaya diri menghadapi tuntutan pengunjung. “Kebayang nggak sih, menari didepan banyak orang dengan busana serba seksi dan mengelu-elukannya. Terkadang kita tiba-tiba menjadi sangat takut dan kecil. Namun ketika memakai narkoba, ia menjadi lebih santai dan nggak peduli dengan jumlah penonton yang datang. Penampilan dan aksi panggungnya menjadi lebih baik diatas panggung tapi sebetulnya hidupnya hancur,” ucap Edwin.

Seakan tak percaya dengan apa yang terjadi pada kekasihnya, namun Edwin tetap memberi kesempatan dan dorongan agar Ratna mau mengikuti rehabilitasi. Bahkan bila perlu ia pun turut mendampingi kekasihnya selama menjalani terapi dan rehabilitasi. “Itulah sekelumit kisah kekasih saya yang terjerumus narkoba, yang memberi kesan, ternyata narkoba tidak hanya menjadi momok sekelompok masyarakat pemuja dunia gemerlap, keluarga broken home, remaja yang terjebak dengan pergaulan bebas, para penjaja seks.  Tetapi juga menyentuh keluarga tradisional (lengkap orang tuanya) dan keluarga dengan status pendidikan yang cukup serta keluarga dengan religius yang tinggi,” imbuh Edwin menutup pembicaraannya.

Sang Idola

Idola, selalu punya daya magis. Segala atribut dan perilakunya bisa menjadi pembenaran buat sebagian fans fanatiknya. Lantas, apa jadinya jika artis yang diidolakan itu ternyata pengkonsumsi narkoba? inilah penuturan seorang laki-laki yang terjerumus narkoba lantaran mengikuti kehidupan fatamorgana sang idola.

Nama saya Toro (bukan nama sebenarnya). Saya dibesarkan di sekitar lingkungan narkoba dan alkohol, tepatnya di daerah Tambak Matraman, Jakarta Pusat. Saya sudah merokok waktu usia 8 tahun dan pada usia 12 tahun sudah mabuk-mabukan, pakai pil BK dan mengisap ganja. Karena hal itulah saya selalu mendapat masalah dengan hukum. Kebiasaan itu berlangsung selama bertahun-tahun. Ketika itu, saya tidak pernah tahu apakah kehidupan yang selayaknya atau hidup bersih. Adapun yang saya tahu dan lakukan adalah selalau mabuk-mabukan dan berpesta setiap waktu bersama teman-teman.

Terus terang, saya adalah fans fanatik salah satu grup musik anak muda. Kecintaan saya pada grup musik itu, bahkan pada salah satu personilnya melebihi segala-galanya. Singkat cerita, dari informasi yang saya dapat, setiap Rabu grup musik itu selalu menggelar jumpa penggemar seusai latihan bermusik di base campnya di Bilangan Jakarta Selatan. Kesempatan itu saya menfaatkan untuk dapat lebih dekat dengan sang idola, mulai dari minta tanda tangan, foto bersama serta mendengar pengalaman grup musik itu dalam mencapai kesuksesan. Saking seringnya ke base camp, lama-kelamaan saya jadi betah dan akrab dengan komunitas itu. Saya pun jadi sering bolos sekolah dan kerap menginap, meskipun tempat untuk menampung para fans grup musik itu tidak terlalu besar. Selama berada di komuitas itu, saya berkenalan dengan sebut saja Ringgo dari Bogor yang mengaku penggemar fanatiknya dan juga sebagai kurir narkoba.

Ringgolah yang mengajak saya untuk mencoba pada barang haram yang disebut narkoba. Menurut pengakuan Ringgo, selain ia menjual narkoba pada para fans grup musik itu, ia pun mensuplai narkoba pada personil grup musik anak muda ini. Awalnya saya tidak percaya dengan apa yang diucapkan Ringgo. Tapi setelah melihat langsung personil grup musik itu memakai narkoba, saya pun membenarkan apa yang diucapkan Ringgo. Saya pun bertanya  pada Ringgo, alasan apa sampai mereka mengkonsumsi narkoba? Ringgo menjawab dengan santai, bahwa dengan narkoba mereka merasa menjadi sangat hebat karena dalam sehari bisa menciptakan puluhan lagu. Selain itu bisa menambah rasa percaya diri ketika nyanyi di atas panggung.

Berawal dari Bujukan Teman

Seakan, seperti sebuah pembenaran, saya pun mulai memakai narkoba. Saat itu yang terlintas di pikiran saya adalah idola saya saja pakai, kenapa saya sebagai fansnya tidak?. Seiring berjalannya waktu, saya menjadi sangat ketergantungan narkoba. Sayapun mulai menggunakan jarum suntik dan menyuntikkannya ke lengan saya. Hidup saya berantakan dan melewati berbagai macam keadaan yang beraneka ragam. Saya mencuri, berbohong, curang dan semua yang saya ketahui bahwa saya adalah bukan  orang yang baik. Saya hampir kehilangan hidup beberapa kali, saya mencuri dari teman-teman dan keluarga saya. Dari semua perilaku saya yang menyimpang itu, yang paling saya takutkan adalah kalau semuanya ini suatu saat akan berakhir di dalam penjara dan mengidap HIV/AIDS.  Selama menjadi pecandu, saya tahu kalau hidup saya sangat gila dan posisi kehidupan saya berada disaat yang terburuk. Saya teringat suatu kali menangis dan memberitahukan kepada teman saya bahwa saya sudah mulai jenuh dengan semua ini dan ingin secepatnya kembali pada kehidupan normal.

Setelah tiga tahun menjadi pecandu, akhirnya saya bisa juga masuk panti rehabilitasi untuk melepaskan diri dari narkoba. Diakui Toro, bukan hal yang mudah ketika ia memutuskan berhenti menggunakan narkoba. Sebab, teman-temannya yang masih menggunakan narkoba selalu berusaha mengajak kembali berkumpul dengan mereka. Disamping itu, ternyata bukan perkara mudah pula untuk memutuskan hubungan dengan mereka. Pasalnya, mereka pasti akan melakukan segala cara agar dirinya bisa kembali dan menggunakan narkoba lagi. Akhirnya, lima bulan kemudian saya kambuh lagi. Kemudian berhenti lagi dan pakai lagi sampai akhirnya, grup musik idola saya memberikan kesaksian betapa tersiksanya menjadi pecandu narkoba. bahkan salah satu personelnya secara blak-blakan mengaku, dia menjadi sosok yang sangat berbeda ketika masih menggunakan narkoba. Setiap kali usai pentas, dia lebih suka berdiam diri di kamar hotelnya daripada menikmati suasana kota dimana grup band papan atas itu manggung.

Dari kesaksian itu, mereka berkomitmen sekaligus memberi pernyataan bahwa seluruh personel grup musik itu sudah terbebas dari kungkungan narkoba. Mereka pun turut mendirikan sebuah rumah rehabilitasi yang diperuntukan bagi para pecandu narkoba yang tidak mampu berobat. Selain itu, secara berkala personil grup musik itu mengajak para fansnya yang mantan pecandu narkoba di rumah itu untuk menyaksikan mereka berlatih sekaligus berdekatan dengan sang idolanya. Itu salah satu cara untuk  membantu para penggemarnya yang menderita karena narkoba. Soalnya, mereka sudah merasakan betapa menderitanya hidup dalam cengkeraman narkoba. Melihat sang idola telah bersih dan dapat menjalankan pola hidup sehat kembali, Toro pun termotivasi untuk berhenti pakai narkoba dan menjadikan grup musik itu sebagai role modelnya guna mengubah hidupnya menjadi lebih berguna. “Idola saya saja bisa berhenti pakai narkoba dan bisa maju, bahkan sampai dikenal orang, kenapa saya tidak bisa seperti dia?

Lebih 10 tahun Toro menjadi pecandu narkoba. Namun kini, ia benar-benar bersih dan bebas dari  segala macam barang setan yang pernah menyeretnya kelimbah kenistaan. Bahkan kini, Toro pun telah menjadi konselor di salah satu tempat rehabilitasi di Jakarta. Terbebasnya Toro dari narkoba dan bisa menjadi seperti sekarang bukanlah tanpa perjuangan. Pengalamannya selama menjadi pecandu dan keluar masuk panti rehabilitasi diambil manfaatnya sebagai tolok ukur akan kelemahan-kelemahannya. Ditambah peranan sang idola yang dijadikan role modelnya dan kerap memberi pengetahuan serta memotivasinya untuk terus maju, apalagi setelah ia dinyatakan positif HIV.

Narkoba Cermin Dalam Kegelapan

HIDUP memang penuh dengan pilihan, terkadang kita harus mendapatkan yang salah sebelum mendapatkan yang benar. Begitupun dengan jalan kehidupan. Arus pergaulan, kemoderenan pada era globalisasi seperti sekarang ini setiap orang berlomba berkiprah di dunia politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan.

Seiring perkembangan zaman, arus pergaulanpun tidak dapat dikontrol, transisi pergaulan ala barat yang tidak dapat tersaring dangan baik, yang mengakibatkan pergaulan bebas tanpa batas yang dapat memicu dan berkembangnya kehidupan yang dapat merusak moral dan akidah anak bangsa dengan dalih tuntutan zaman. Narkoba bagi sebagian orang khususnya remaja dianggap bagian dari kemoderenan dan gaya hidup. Tapi mereka tidak pernah berfikir kemoderenan yang dianut hanya akan membawa mereka pada keterpurukan. Disisi lain para medis menggunakannya untuk pengobatan sungguh fenomena yang sulit untuk dihilangkan.

Sementara pendiri diskotik, pub dan tempat hiburan malam, bertujuan sekedar menyuguhkan hiburan untuk melepas lelah, tapi siapa sangka kalau tempat tersebut  justru dijadikan ajang bisnis narkoba seperti contoh Santi (bukan nama sebenarnya) remaja putri berusia 25 tahun ini pun tak luput dari incaran bandar-bandar narkoba sejak ia duduk di bangku SMU. Berawal dari coba-coba saat ditawarkan barang haram itu oleh temannya. Karena takut kalau dibilang ketinggalan zaman, akhirnya ia pun mencobanya. Awalnya ia hanya menggunakan ganja, hingga terus berlanjut ke shabu dan putaw. Pada tahun pertama ia tidak merasakan efek negatif dari mengkonsumsi narkoba. “Aku semakin merasa percaya diri dan di sekolahpun tambah berprestasi, “ucapnya. Akhirnya hari-harinya dilalui tanpa dunia adiktif, perjalanan khayalnya berlanjut sampai masuk ke universitas.

Seiring berjalannya waktu, dampak negatif dari barang haram itu mulai menampakan wujudnya. Guna mendapatkan narkoba saja, ia wajib mengeluarkan uang Rp 50.000 untuk satu paket kecil shabu dan Rp 100.000 untuk satu Jl putaw. “Aku mulai panik karena untuk mendapatkan barang haram itu tidak gratis, tabunganku perlahan tapi pasti mulai ludes. Tak ada jalan lain, terpaksa aku mulai menjual barang-barang yang ada di kamar acap kali sakauw. Tidak berhenti sampai disitu saja, akupun mulai berani melakukan penjarahan ke kamar orangtua, “kata Santi menceritakan pengalamannya.

Sungguh dahsyat Pengaruh narkoba yang mampu menjadikan seorang Santi menjadi pecandu dan kriminal. Tidak hanya itu saja, ia pun rela menukarkan kesuciannya demi mendapatkan barang-barang haram itu. Karena narkoba membuat hidupnya berada dalam lingkaran hitam yang tidak berujung. Akibat dari semua itu, keluarga mulai tidak nyaman dengan tingkahnya, hingga akhirnya anak kedua dari tiga bersaudara ini di rawat di rehabilitasi berbasis agama di Tasikmalaya Jawa Barat. Meski berbagai terapi telah ia jalani, namun pengaruh narkoba ternyata lebih kuat hingga setelah keluar dari rehabilitasi itu, ia kembali kambuh. Melihat ini, akhirnya keluarga memasukan kembali ke rehabilitasi YKT di Bogor.

Teguran Itu Datang

Selepas dari rehabilitasi di Bogor, untuk sementara ia bisa pulih dari ketergantungan narkoba. Tapi siapa yang berani menjamin? Saat keluarga memberikan kepercayaan terhadapnya, tiba-tiba datang dari kampus yang membawa surat pernyataan bahwa Santi terjaring razia narkoba di kampusnya dan dalam urinenya, Santi poisitif menggunakan narkoba. Tidak terbayang betapa kecewanya keluarga, “Aku udah lama tidak pakai, tapi saat aku tidur dan bermimpi sedang pakai, aku langsung bangun dan tiba-tiba sakauw terus aku langsung cari narkoba dan memakainya. Ketika keluarganya memppertanyakan kenapa ia bisa kambuh lagi, yah, tidak bisa disalahkan, sugesti narkoba memang sangat dahsyat. Karena peristiwa itu, akhirnya keluarga menerima keputusan dari kampusnya dirinya di D.O dari tempat ia menuntut ilmu.

Perjalanan hidupnya, kemudian diteruskan di tempat rehabilitasi. Sampai pada akhhirnya ia divonis oleh dokter bahwa ia mengidap virus hepatitis C, yaitu virus mematikan dengan cara pengapuran pada hati yang harus ia derita. Memang diakui Santi, ketika ia memakai putaw, ia tidak pernah menggunakannya dengan jarum suntik. Hal itu disebabkan karena ia takut tertular HIV/AIDS. Sampai saat ini ia tetap tegar menjalani kehidupannya, meski sebagian anggota keluarga sudah tidak lagi peduli dan menganggap sampah yang mencemarkan nama baik keluarga. Kini, hari-harinya ia lalui dengan sabar meski ia tidak tahu kapan dirinya bisa kembali pulih. Diakuinya, seorang adiktif memang sulit kembali dalam kehidupan normatif. Tapi selama hayat masih dikandung badan, ia harus tetap berjuang melawan virus yang berkembang dalam tubuhnya dan berusaha mengembalikan kepercayaan keluarga pada dirinya, meski perjuangan itu tidak mudah.

Siapa sangka seorang gadis yang bisa berprestasi di sekolahnya dan bercita-cita menjadi arsitek ini, ternyata bisa terjerumus juga dalam belenggu narkoba. Di rehabilitasi, kini ia mulai mencari jati diri tentang siapa dirinya, dan siapa sang pencipta. Hal itu menurutnya belum terlambat. Selain itu Santi berusaha membangun ketegaran dan kesabaran. Ia tidak menganggap semua yang terjadi adalah hukuman, tetapi konsekuensi yang memang harus ia jalani, karena menurutnya hidup tidak lepas dari sebab dan akibat. “Aku yang memulai permainan ini, maka hanya aku yang tahu bagimana cara menghentikannya, “ucapnya optimis.

Karena kesabaran, ketegaran dan optimisme dari pergulatan hidupnya bersama narkoba, akhirnya Santi dijadikan contoh oleh teman-temannya sesama pecandu. Tak jarang Santi membesarkan hati para pecandu dengan kata-kata, tempat tidaklah menjamin seseorang menjadi baik, tapi yang bisa menjamin semua itu adalah hati. Selain itu, ia pun mengatakan tanpa narkoba kita bisa berprestasi, mengikuti perubahan zaman bukan berarti harus mengkonsumsi narkoba dan modern bukan berarti mencelakai diri sendiri

Yang Mati Tak Akan Pernah Kembali

Daniel (bukan nama sebenarnya) adalah  mantan pecandu narkoba. Kini ia menjadi tenaga relawan yang mendampingi para pecandu narkoba, bahkan ada beberapa pecandu yang sudah akut misalnya yang sudah terinveksi HIV/AIDS. Sepanjang harinya Daniel harus mendampingi pecandu yang sedang sakaratul maut. Lelaki kelahiran 1975 ini mulai mengenal narkoba sejak 1994 atau sejak ia berusia 18 tahun, ketika masih menjadi siswa sebuah SMU  di Jakarta. Kali pertama ia mencoba minuman, kemudian mengenal cimeng (ganja), selanjutnya mengenal inex (ecstasy), shabu dan puncaknya adalah putaw.

Karena kenikmatan putaw itulah, Daniel pernah menjadi junkie dalam arti sesungguhnya. “karier” puncaknya, ia pernah menjadi second-line bandar putaw dengan wilayah peredaran tak jauh dari rumahnya.  Peristiwa lainnya, ia pernah di penjara, pernah ditangkap di Bekasi ketika lagi nyuntik putaw, sementara jarumnya masih nancep di lengan. Kemudian jadi gembel di Pasar Tanah Abang  Jakarta Pusat, tidur di terminal untuk menunggu Bandar putaw buka di daerah Jakarta pusat tersebut. Pendek kata, perbuatan yang mengerikan untuk ukuran orang waras pernah ia lakukan.

Berbagai peristiwa yang menjadi derita dalam perjalanan hidupnya pun kerap ia terima semisal dari keluarga, berupa siksaan sejak kecil dan diperlakukan tak adil dari kedua orang tuanya. Hal dasar itulah yang menjadi alasan kuat bagi Daniel untuk mencari jalan keluar bagi kebuntuan hidupnya di rumah. Terucap dari mulutnya, sebetulnya ia tak memiliki kecenderungan menjadi pecandu. Kalau akhirnya memilih jadi pecandu, ia justru merasa at home di tengah-tengah komuintas para junkie. Seiring berjalannya waktu menjadi seorang pecandu, kehidupan Daniel nyaris pecah berkeping-keping dan berada diujung kehancuran. Beruntung tangan Tuhan masih mau menjamahnya dan mengangkatnya dengan peristiwa meninggalnya pacar tercinta yang juga pecandu karena overdosis.

Padahal, menurut pengakuan Daniel, mereka sama-sama sudah bosan hidup begini-begini melulu, dan  sepasang kekasih itu berkeinginan hidup normal dan sehat. Setelah dihajar duka karena kepergian sang kekasih, muncul duka yang lain dimana orangtuanya pun mengusir Daniel dari rumah.  Hal itu terjadi lantaran mereka sudah tak sanggup lagi mengurusi kebiasaan Daniel yang selalu memakai narkoba. ketika terusir dari rumah, ia pun pergi ke sebuah gereja di daerah Depok. Hal itu dilakoninya, karena ia merasa sudah tidak ada tempat lagi buatnya untuk berkeluh kesah. Dalam doanya kepada Tuhan, ia berkata “Tuhan gue sudah bosen hidup begini terus dan kepengen sembuh, terserah gimana caranya. Bantulah aku Tuhan”. Di gereja tersebut, ia bertemu seorang pendeta yang sekaligus membantunya dan dibawa ke klinik yang ada di gereja untuk diobati akibat kecanduan zat adiktif tersebut.

Sudah lima tahun Daniel dinyatakan bersih dari narkoba. Kini, ia malah menjadi relawan dan menolong para junkie agar hidup lebih sehat untuk meninggalkan narkoba. Tak Cuma itu, lelaki yang mengaku tak bisa pindah ke lain hati pada wanita lain ini pun dengan setia mendampingi mereka yang terjerumus narkoba dan terkena virus HIV/AIDS dengan penuh kasih sayang. Sepeninggal kekasihnya yang pergi menghadap Tuhan, Daniel lebih banyak menghabiskan waktunya bersama-sama pecandu dan komunitas gereja. Rencana untuk mendirikan sebuah workshop kerajinan tangan untuk menopang kehidupan mereka kelak secara ekonomi, kini teronggok di sudut gudang rumah kekasihnya bersama sisa keranjang pembungkus yang pernah ia bikin bersama sang kekasih untuk dijual kepada para kenalannya tempo dulu.

Meski kini kehidupannya telah berubah 180 derajat, dan awan kedukaan karena ditinggal kekasih hatinya terus menyelimuti dirinya. Namun ia akan bertahan sekuatnya untuk tak balik ke jalan yang gelap yang pernah ia lewati kendati kesedihan kadang-kadang menderanya. Apalagi ujian berat untuk keluar dari jerat narkoba telah ia lalui dengan gemilang. Bukankah kemudian ia juga merasakan betapa bermanfaat hidupnya sekarang ini untuk para pecandu dan penderita HIV/AIDS yang membutuhkan kasih sayangnya. Dibalik itu semua, ada satu kalimat “pamungkas” yang ia ucapkan, kenapa sampai detik ini dia mampu mengusir segala kesedihan dari hatinya, ternyata ia menyadari kalau yang mati itu tak pernah akan kembali.

Sisi Lain Seorang Pecandu

Cerita ini adalah satu dari sekian banyak penyebab terjerumusnya anak manusia ke dalam belenggu narkoba, dan bukan sebagai faktor penentu untuk selalu menyalahkan orangtua ketika seseorang telah menjadi pecandu. Orang bisa menjadi pecandu karena beberapa hal, faktor keluarga dan lingkungan serta pergaulan. Selain itu masih ada faktor lain yang sangat menentukan yaitu pribadi masing-masing orang.

Beberapa tahun lalu, saya berkenalan dengan seorang wanita yang hampir sebaya, cantik, ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja. Itulah kesan pertama yang saya dapatkan dari dia. Pertemuan pertama kali di sebuah pusat perbelanjaan di sekitar Pancoran Jakarta Selatan itu, akhirnya berlanjut menjadi sebuah persahabatan yang cukup kental. Dari awal saya sudah tahu kalau dia merokok, cuma ketika itu, mungkin saya masih bisa merasa sedikit acuh dan tidak terlalu mampermasalahkannya. Pertemuan pertama berlanjut kepertemuan kedua, terus berlanjut lagi hingga pertemuan-pertemuan selanutnya. Singkat cerita, kami mulai berani saling terbuka, dalam artian saling berbagi pengalaman, tukar cerita, saling beri nasehat dan memberi perhatian layaknya sahabat karib yang sudah sedemikian akrab dan lamanya kami bersahabat.

Hingga pada suatu ketika, entah karena mungkin dia sudah tidak tahu harus berbuat apa? Harus bercerita kepada siapa? Atau mungkin karena suatu hal yang saya sendiri tidak tahu apa dan kenapa, suasana pertemuan kami yang biasanya dihiasi dengan gurauan dan saling melempar hinaan, berubah menjadi kaku dan sentimentil. Sambil terisak dia menceritakan bahwa dia sudah cukup lama mengkonsumsi barang laknat yang biasa disebut shabu. Dia ingin berhenti, Cuma tidak tahu harus bagaimana. Dia sendiri tidak merasa yakin apakah mampu lepas dari jerat narkoba yang telah dikonsumsinya selama tujuh tahun ini.

Sebagi anak seorang pengusaha yang hidup berkelebihan secara materi dengan uang saku mencapai Rp. 1,5 juta per minggu, sangat memungkinkan bagi dia untuk mengkonsumsi “barang setan” tersebut kapanpun dia mau. Dari pertemuan yang sentimentil itu, ia mengaku selama ini tidak pernah merasakan hadirnya sebuah keluarga dalam hidupnya. Bahkan mungkin dia sendiri tidak tahu apa arti dari sebuah keluarga. Sebenarnya dia sadar, yang dibutuhkannya tidak hanya sekedar uang saku yang melimpah namun juga belaian kasih sayang, arahan, bimbingan dan pelukan dari orang tua. Tapi apa mau dikata? Orang tuanya hanya memberikan kepuasan lahiriyah tanpa mempedulikan kepuasan batiniah anak-anaknya. Sehingga dalam kindisi jiwa yang sangat labil karena tertekan kebutuhan kasih sayang dan perhatian, ditambah dengan dukungan materi yang mencukupi, akhhirnya terjerumuslah dia kedalam  suatu kehidupan yang sebenarnya dia sendiri tidak pernah menginginkannya.

Pecandu narkoba bisa lepas dari jeratan barang haram itu hanya dengan dorongan, dukungan dan kasih sayang keluarga. Jika faktor keluarga tidak termasuk didalamnya sebagai terapi paling ampuh, hanya Tuhan yang tahu kisah berikutnya. Karena dalam hati dan keyakinan saya, sebenarnya yang perlu diberi saran dan nasehat adalah kedua orangtuanya. Terjerumusnya dia kedalam pelukan narkoba, lantaran karena tidak adanya perhatian dari orangtuanya, yang seharusnya bisa selalu memberikanhal itu tanpa perlu diminta oleh anak-anaknya. Waktu pun terus berlalu hingga saya akhirnya kehilangan kontak dengan dia. Entah sekarang dia seperti apa dan bagaimana, saya tidak tahu, Cuma dari dalam hati yang paling dalam saya hanya berharap semoga dia telah mendapat petunjuk-Nya dan bisa keluar dari narkoba

logognb

Login Form






Forgot login?
Daftar Account? Register

Tanggal dan Waktu

Berita

TIGA LANGKAH MEMBANGUN REMAJA BEBAS NARKOBA

Membangun remaja yang bebas dari penyalahgunaan narkoba harus didasarkan pada pencermatan terhadap karakteristik pengguna narkoba sekaligus tindakan yang melatarbelakanginya. Menurut analisis Dr. Graham Blaine (psikiater), penyebab seseorang mengkonsumsi narkoba tidak hanya berasal dari keinginan individu itu sendiri akan tetapi juga berasal dari lingkungan sekitarnya.

Semuanya itu jelas akan memburamkan masa depan keluarga, masyarakat dan bangsa termasuk masa depan remaja itu sendiri. Logika yang dapat ditarik sangat sederhana. Remaja yang menyalahgunakan narkoba sudah menjadi generasi yang rusak dan sulit dibenahi. Tubuhnya tidak lagi fit dan fresh untuk belajar dan bekerja membantu orangtua, sementara mentalnya telah dikotori oleh niat buruk untuk mencari cara mendapatkan barang yang sudah membuatnya kecanduan.

Read more...

Ketua BNP Jabar

Ketuabnp
Ketua BNP Jawa Barat
Effendi M. Yusuf

Kalakhar

kalakhar
Ketua Pelaksana Harian
BNP Propinsi Jawa Barat
B.Kadafirman

SMS Gateway

smsgateway_1

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini24
mod_vvisit_counterKemarin314
mod_vvisit_counterMinggu ini24
mod_vvisit_counterMinggu lalu3181
mod_vvisit_counterBulan ini1687
mod_vvisit_counterBulan lalu15046
mod_vvisit_counterSemua71288

Today: Sep 05, 2010

Komunikasi

Jejak Pendapat

Apakah perlu diadakan razia narkoba disekolah-sekolah atau Perguruan Tinggi

Bagaimana menurut anda mengenai artikel yang tampilan website BNP Jabar saat ini

Call Center

      

Pengunjung Online

We have 4 guests online